Takut Ketinggalan Tren: Ketika Hidup Mulai Diukur dari Kehidupan Orang Lain
Pernahkah kita merasa tertinggal hanya karena melihat teman sedang berlibur, membeli barang baru, mengikuti tren, atau membagikan pencapaian tertentu di media sosial? Padahal, sebelumnya kita merasa baik-baik saja dengan kehidupan sendiri. Namun, setelah melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan, tiba-tiba muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang belum kita miliki.
Fenomena ini semakin akrab dalam kehidupan masyarakat digital. Media sosial menghadirkan berbagai potongan kehidupan orang lain yang sering kali terlihat sempurna. Ada yang sibuk membagikan pencapaian akademik, perjalanan wisata, pekerjaan impian, hingga gaya hidup yang tampak mewah. Tanpa disadari, apa yang kita lihat perlahan menjadi standar untuk menilai kehidupan sendiri.
Dalam psikologi populer, kondisi tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO), yaitu ketakutan atau kekhawatiran ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, aktivitas, atau tren yang sedang dialami orang lain. FOMO bukan sekadar keinginan untuk mengetahui sesuatu yang sedang ramai, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan untuk merasa terhubung, diakui, dan tidak tertinggal dari lingkungan sosial.
Ketika Kehidupan Orang Lain Menjadi Standar
Media sosial pada dasarnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengekspresikan diri. Namun, persoalannya muncul ketika ruang ekspresi tersebut berubah menjadi tempat membandingkan kehidupan. Kita mulai mengukur pencapaian berdasarkan apa yang dimiliki orang lain, menilai kebahagiaan dari pengalaman yang ditampilkan, bahkan mempertanyakan keberhasilan diri hanya karena melihat orang lain tampak lebih maju.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori perbandingan sosial (Social Comparison Theory) yang diperkenalkan oleh psikolog Leon Festinger pada 1954. Menurut teori tersebut, manusia memiliki kecenderungan untuk mengevaluasi kemampuan dan pendapat dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain.
Dalam kehidupan digital, kecenderungan tersebut semakin mudah terjadi. Kita dapat melihat pencapaian puluhan bahkan ratusan orang hanya dalam beberapa menit. Masalahnya, kita sering membandingkan keseluruhan kehidupan pribadi dengan bagian terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di media sosial.
Akibatnya, muncul standar kehidupan yang tidak selalu realistis. Seseorang merasa harus memiliki barang tertentu, mengunjungi tempat tertentu, mengikuti tren tertentu, atau mencapai sesuatu pada usia tertentu agar tidak dianggap tertinggal.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, kemampuan, dan proses kehidupan yang berbeda. Apa yang terlihat menarik di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan realitas kehidupan seseorang.
Dari Takut Tertinggal Menjadi Budaya Konsumtif
Persoalan FOMO tidak berhenti pada perasaan membandingkan diri. Dalam situasi tertentu, fenomena ini dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Kita mungkin pernah membeli pakaian karena sedang tren, mengganti perangkat elektronik karena merasa tertinggal, atau mengunjungi tempat tertentu hanya karena sedang ramai diperbincangkan. Keputusan tersebut terkadang bukan sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan, melainkan dorongan untuk memperoleh pengalaman yang sama dengan orang lain.
Penelitian Kumar dan Kumar (2024) dalam Journal of Internet Commerce menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan media sosial secara kompulsif, perbandingan sosial, FOMO, dan perilaku pembelian impulsif maupun kompulsif pada kalangan dewasa muda.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Heliyon pada 2024 juga menemukan bahwa paparan terhadap influencer dapat memicu perbandingan sosial dan FOMO, yang kemudian berhubungan dengan kecenderungan konsumsi simbolik atau konsumsi untuk menunjukkan status sosial.
Hal ini memperlihatkan bahwa media sosial bukan hanya ruang komunikasi dan hiburan, tetapi juga lingkungan yang dapat memengaruhi keputusan konsumsi seseorang.
Di sinilah kita perlu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua sesuatu yang sedang populer harus dimiliki. Tidak semua pengalaman yang dilakukan orang lain harus kita ikuti. Ketika keputusan konsumsi lebih banyak didorong oleh kebutuhan akan pengakuan sosial, kita berisiko kehilangan kemampuan menentukan prioritas berdasarkan kondisi diri sendiri.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang mengelola uang, tetapi juga bagaimana ia memahami makna kebahagiaan dan kecukupan.
FOMO dan Tantangan Kesejahteraan Generasi Muda
Selain berdampak pada pola konsumsi, FOMO juga perlu diperhatikan dari sisi kesejahteraan psikologis. Kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain dapat menimbulkan tekanan, terutama ketika seseorang merasa kehidupannya tidak sesuai dengan standar yang dilihat setiap hari.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam BMC Psychology pada 2024, dengan melibatkan 252.337 partisipan dari 28 negara, menemukan adanya hubungan positif antara penggunaan jejaring sosial yang bermasalah dengan berbagai gejala kecemasan, termasuk FOMO.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap pengguna media sosial pasti mengalami gangguan psikologis. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas digital dan kesejahteraan mental merupakan persoalan yang perlu diperhatikan.
Kita perlu menyadari bahwa kehidupan bukan perlombaan yang mengharuskan setiap orang mencapai sesuatu pada waktu yang sama. Ada orang yang berhasil lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang sedang berjuang dalam kondisi yang tidak diketahui orang lain.
Sayangnya, budaya digital sering kali membuat proses tersebut tidak terlihat. Kita lebih mudah menyaksikan hasil daripada memahami perjalanan. Akibatnya, keberhasilan orang lain dapat terasa seperti kegagalan bagi diri sendiri.
Padahal, terlambat bukan berarti gagal, berbeda bukan berarti tertinggal, dan tidak mengikuti tren bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bahagia.
Menghubungkan FOMO dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan
Fenomena FOMO juga dapat dibaca melalui perspektif pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Setidaknya terdapat dua tujuan yang relevan untuk memahami persoalan ini.
Pertama, SDG 3 atau Good Health and Well-being, yang menekankan pentingnya kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua orang. Salah satu targetnya, yaitu target 3.4, secara khusus mendorong promosi kesehatan mental dan kesejahteraan. Dalam konteks ini, membangun kesadaran terhadap tekanan sosial digital menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kehidupan yang lebih sehat.
Kedua, SDG 12 atau Responsible Consumption and Production, yang menekankan pentingnya pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Fenomena FOMO relevan dengan tujuan ini ketika ketakutan tertinggal mendorong seseorang membeli barang atau mengikuti gaya hidup tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan ekonominya.
Selain itu, SDG 4 tentang pendidikan berkualitas juga memiliki keterkaitan melalui pentingnya literasi digital. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi, mengenali pengaruh media sosial, serta membangun sikap kritis terhadap standar kehidupan yang ditampilkan di ruang digital.
Dengan demikian, persoalan FOMO tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan individu. Ada dimensi sosial, pendidikan, kesehatan mental, dan pola konsumsi yang perlu diperhatikan bersama.
Belajar Menikmati Kehidupan Sendiri
Menghadapi fenomena FOMO bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial atau berhenti mengikuti perkembangan zaman. Teknologi tetap dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkomunikasi, dan memperluas pengalaman.
Hal yang lebih penting adalah membangun kesadaran dalam menggunakannya. Kita perlu belajar menentukan prioritas, membatasi kebiasaan membandingkan diri, serta memahami bahwa tidak semua tren harus diikuti.
Mengelola keuangan berdasarkan kebutuhan, memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, dan menghargai pencapaian kecil juga merupakan langkah sederhana untuk membangun kehidupan yang lebih seimbang.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak ada kewajiban untuk selalu terlihat produktif, memiliki barang terbaru, mengunjungi tempat populer, atau mencapai keberhasilan pada waktu yang sama dengan orang lain.
Kita perlu mengembalikan ukuran keberhasilan kepada proses dan tujuan hidup masing-masing. Sebab, kehidupan bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan bagaimana setiap orang mampu menjalani kehidupannya dengan sadar, bertanggung jawab, dan bermakna. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang terlihat menarik di mata orang lain, hingga lupa menikmati kehidupan yang sebenarnya sedang kita jalani.
Penulis :
Didin Kamaludin