Side Hustle Jadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Tren

Fenomena side hustle atau pekerjaan sampingan semakin marak di kalangan generasi muda. Jika sebelumnya aktivitas ini identik dengan sekadar hobi produktif atau tambahan penghasilan ringan, kini banyak pekerja usia 20-an menjadikannya sebagai strategi finansial yang serius.

Perubahan kondisi ekonomi, kenaikan biaya hidup, serta ketidakpastian pasar kerja menjadi faktor pendorong utama. Generasi Z tidak lagi mengandalkan satu sumber pendapatan. Selain pekerjaan utama, sebagian dari mereka membangun bisnis kecil, menjadi freelancer, atau mengembangkan proyek kreatif melalui platform digital global seperti Fiverr dan Upwork yang membuka akses kerja lintas negara.

Fenomena ini sekaligus menandai pergeseran orientasi karier. Ambisi profesional Generasi Z tidak lagi terpaku pada struktur hierarki tradisional. Alih-alih mengejar jabatan manajerial atau posisi eksekutif tinggi, banyak dari mereka lebih memilih membangun keamanan finansial melalui berbagai sumber pendapatan.

Survei dari Harris Poll yang dikutip oleh Forbes menunjukkan bahwa 57 persen Gen Z kini memiliki side hustle, angka yang secara signifikan melampaui milenial maupun Gen X. Data ini mempertegas bahwa kesuksesan bagi generasi muda tidak lagi semata-mata diukur dari jabatan struktural, melainkan dari otonomi, fleksibilitas, serta kontrol atas waktu dan kreativitas mereka.

Pola pikir tersebut tidak lahir tanpa alasan. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dinamika ekonomi global yang fluktuatif menumbuhkan rasa skeptis terhadap stabilitas pekerjaan jangka panjang. Banyak pekerja muda memandang ketergantungan pada satu perusahaan sebagai risiko yang terlalu besar di era disrupsi. Pekerjaan utama kerap diposisikan sebagai fondasi finansial, sementara proyek sampingan menjadi strategi perlindungan sekaligus ruang aktualisasi diri.

Tekanan biaya hidup juga memperkuat tren ini. Survei dari OnePoll mencatat 48 persen responden memulai side hustle untuk menghadapi kenaikan harga dan inflasi. Realitas ekonomi tersebut membuat jabatan tinggi di perusahaan tidak selalu dipandang sebagai jaminan kesejahteraan, terutama jika harus dibayar dengan beban kerja berlebih dan hilangnya fleksibilitas.
Meski menawarkan peluang, menjalankan dua atau lebih pekerjaan sekaligus bukan tanpa risiko. Padatnya ritme kerja dapat memicu kelelahan fisik maupun mental, terlebih ketika media sosial turut membentuk narasi bahwa produktivitas tanpa henti adalah standar baru kesuksesan. Dalam banyak kasus, fenomena ini tidak hanya berbicara tentang ambisi, tetapi juga tentang kecemasan kolektif generasi muda terhadap masa depan yang semakin sulit diprediksi.

Pada akhirnya, side hustle bukan lagi sekadar tren gaya hidup produktif. Ia mencerminkan transformasi struktural dalam dunia kerja, di mana loyalitas tunggal pada satu perusahaan mulai memudar dan digantikan oleh konsep “portofolio karier” yang lebih fleksibel. Bagi Generasi Z, kemakmuran kini didefinisikan sebagai kemandirian profesional, kemampuan untuk tetap stabil secara finansial sekaligus memiliki kendali atas arah hidup di tengah ketidakpastian ekonomi modern.

Di tengah perubahan tersebut, kesiapan individu dalam merencanakan arah karier menjadi semakin penting. Bagi mahasiswa dan alumni, dukungan seperti yang dihadirkan Career Development Center (CDC) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui layanan konseling dan pengembangan kompetensi dapat menjadi salah satu ruang refleksi sekaligus strategi agar langkah profesional tetap terarah di tengah dinamika dunia kerja yang terus berubah.

Penulis:
Meldy Fauziah

Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam