Quiet Quitting, Job Hugging, dan Fenomena Baru Dunia Kerja: Apa yang Bisa Dipelajari Fresh Graduate?
Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir, dunia kerja melahirkan istilah-istilah baru yang cepat menyebar di media sosial. Setelah great resignation dan job hopping, kini muncul dua fenomena yang tampak berlawanan: quiet quitting, ketika karyawan hanya bekerja sebatas tugas pokok, dan job hugging, ketika karyawan bertahan erat di pekerjaannya karena takut mengambil risiko. Bagi fresh graduate yang sebentar lagi memasuki dunia profesional, kedua istilah ini bukan sekadar tren. Keduanya adalah cermin dari hubungan antara manusia, pekerjaan, dan rasa aman di tengah ketidakpastian.
Artikel ini membahas apa itu quiet quitting dan job hugging, mengapa keduanya muncul, serta pelajaran yang dapat dipetik lulusan baru agar tidak terjebak di salah satunya.
Quiet Quitting: Bekerja Seperlunya, Bukan Berhenti Bekerja
Quiet quitting menggambarkan perilaku karyawan yang tetap bekerja di dalam organisasi tetapi hanya menjalankan tugas minimum sesuai uraian pekerjaan (al Fazri et al., 2025; Akbar & Mariyati, 2026). Istilah ini bukan pengunduran diri formal. Karyawan tetap hadir dan menyelesaikan kewajiban, tetapi menarik diri dari keterlibatan ekstra. Istilah ini ramai dibicarakan sejak 2022, bermula dari perbincangan di Amerika Serikat, lalu menjangkau Indonesia (Akbar & Mariyati, 2026).
Sejumlah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa quiet quitting jarang berdiri sendiri. Penelitian pada 113 karyawan Generasi Z menemukan bahwa semakin tinggi kepuasan kerja, semakin rendah kecenderungan quiet quitting (al Fazri et al., 2025). Studi lain di Kota Semarang menempatkan job burnout sebagai pemicu quiet quitting, dengan optimisme berperan sebagai pelunak hubungan tersebut (Hastami & Putri, 2026). Kajian lain menyimpulkan bahwa keterikatan kerja (work engagement) menekan perilaku quiet quitting dan menjadi jembatan antara burnout dan quiet quitting (Rahayu et al., 2025). Sementara itu, penelitian pada pekerja Generasi Z di Indonesia menemukan bahwa pekerjaan yang bermakna (meaningful work) berperan menurunkan quiet quitting, dan keterlibatan yang tinggi saja belum cukup untuk mencegahnya (Putri et al., 2026).
Bagi sebagian Generasi Z, quiet quitting dipandang sebagai upaya yang masuk akal untuk menghadapi beban kerja berlebih dan tuntutan yang tidak sesuai dengan kapasitas diri (Akbar & Mariyati, 2026). Artinya, fenomena ini bisa dibaca sebagai sinyal. Ia bisa menandakan ketidaksesuaian antara beban, penghargaan, dan makna pekerjaan, bukan semata-mata kemalasan.
Job Hugging: Bertahan karena Aman, Belum Tentu karena Bahagia
Jika quiet quitting adalah menarik diri secara diam-diam, job hugging adalah memeluk pekerjaan erat-erat. Istilah ini merujuk pada kecenderungan pekerja bertahan di posisi sekarang di tengah pasar kerja yang melambat, perekrutan yang lesu, dan ketidakpastian ekonomi (CNBC Indonesia, 2025). Banyak yang bertahan bukan karena merasa berkembang, tetapi karena mencari rasa aman (CNA Indonesia, 2025). Job hugging sering dipahami sebagai kebalikan dari job hopping (Good News from Indonesia, n.d.).
Penting dicatat, tidak semua orang yang lama bekerja di satu perusahaan otomatis melakukan job hugging (Good News from Indonesia, n.d.). Karyawan yang bertahan karena puas tentu berbeda dengan mereka yang bertahan karena takut menganggur. Perilaku bertahan di pekerjaan yang kurang ideal sendiri bukan hal baru, hanya kini punya nama (Good News from Indonesia, n.d.).
Sisi gelapnya nyata. Pekerja yang terlalu lama bertahan berpotensi kehilangan peluang kenaikan gaji, sebab secara historis pekerja yang berpindah cenderung memperoleh kenaikan upah lebih besar dibanding yang tetap di posisi lama (CNBC Indonesia, 2025). Bagi perusahaan, karyawan yang "jalan di tempat" juga dapat menurunkan kesesuaian performa dengan standar organisasi (CNA Indonesia, 2025).
Menariknya, kajian akademik mulai menelaah kedua perilaku ini pada pekerja Generasi Z di Indonesia melalui lensa etika ekonomi Islam (Anggraini et al., 2026). Hal ini membuka ruang refleksi bagi lulusan perguruan tinggi keagamaan: bagaimana memaknai bekerja, bertahan, dan berpindah dengan nilai amanah dan tanggung jawab.
Dua Wajah dari Satu Persoalan
Sekilas keduanya berbeda: yang satu menarik diri, yang lain bertahan. Namun, keduanya bertemu pada satu titik, yaitu hubungan yang tidak sehat antara pekerja dan pekerjaannya. Quiet quitting muncul ketika beban, penghargaan, dan makna tidak seimbang. Job hugging muncul ketika rasa takut mengalahkan keinginan untuk berkembang. Keduanya bisa terjadi pada orang yang sama: tetap bertahan di kantor (job hugging) sambil bekerja sekadarnya (quiet quitting).
Perlu hati-hati pula dalam membaca data. Banyak angka tentang fenomena ini berasal dari survei media atau sampel terbatas, sehingga tidak otomatis mewakili seluruh pekerja Indonesia. Karena itu, pembaca sebaiknya melihatnya sebagai gambaran kecenderungan, bukan kesimpulan final.
Pelajaran bagi Fresh Graduate
1. Pilih pekerjaan dengan melihat makna, bukan hanya gaji. Temuan bahwa pekerjaan bermakna menurunkan quiet quitting (Putri et al., 2026) mengingatkan bahwa kecocokan nilai dan minat sama pentingnya dengan nominal penghasilan. Kenali dulu minat, kekuatan, dan tujuan jangka panjang. Konseling karier di kampus dapat menjadi titik awal.
2. Kenali tanda burnout sejak dini. Karena burnout dapat mendorong penarikan diri dari pekerjaan (Hastami & Putri, 2026; Rahayu et al., 2025), fresh graduate perlu belajar menetapkan batas, mengelola energi, dan berani berkomunikasi dengan atasan tentang beban kerja. Keseimbangan hidup dan kerja bukan tanda kurang berambisi, melainkan syarat bertahan lama.
3. Bertahan boleh, stagnan jangan. Bertahan di tempat kerja yang sehat adalah keputusan rasional. Namun, bertahan karena takut sebaiknya diimbangi dengan terus belajar. Misalnya mengambil proyek baru, rotasi peran, atau mengikuti pelatihan, sebagaimana gagasan internal mobility yang mendorong perpindahan peran di dalam perusahaan untuk memperluas pengalaman (Good News from Indonesia, 2026).
4. Cari lingkungan yang menghargai dan mengembangkan. Kepuasan kerja dan keterikatan kerja terbukti berkaitan dengan rendahnya kecenderungan quiet quitting (al Fazri et al., 2025; Rahayu et al., 2025). Saat melamar, tanyakan budaya kerja, peluang belajar, dan jalur pengembangan karier, bukan hanya jabatan dan gaji.
5. Bangun jaringan dan keterampilan sebagai bekal pilihan. Rasa terjebak sering muncul ketika seseorang merasa tidak punya pilihan lain. Portofolio, jejaring alumni, dan kompetensi yang terus diperbarui membuat pekerja lebih berani mengambil keputusan, entah bertahan atau berpindah, karena alasan yang tepat.
Peran Kampus dan Layanan Karier
Fenomena ini juga menjadi pekerjaan rumah perguruan tinggi. Layanan karier perlu membekali mahasiswa bukan hanya dengan cara melamar kerja, tetapi juga dengan literasi dunia kerja: mengenali budaya organisasi, mengelola ekspektasi, menjaga kesehatan mental, dan membangun etos kerja yang sehat. Mentoring alumni dapat membantu mahasiswa melihat gambaran dunia kerja yang lebih jujur sebelum mereka terjun langsung.
Penutup
Quiet quitting dan job hugging mengajarkan bahwa dunia kerja bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tetapi juga menjaga hubungan yang sehat dengan pekerjaan itu. Fresh graduate yang siap bukan hanya yang cepat diterima, tetapi yang tahu mengapa ia bekerja, bagaimana ia menjaga dirinya, dan kapan ia perlu bertumbuh. Dengan bekal makna, batas yang sehat, dan keberanian belajar, lulusan baru dapat melangkah tanpa harus memilih antara menarik diri diam-diam atau bertahan karena takut.
Daftar Pustaka
Akbar, I. N., & Mariyati, L. I. (2026). Pengaruh kelelahan kerja dan keseimbangan kehidupan-kerja terhadap quiet quitting pada karyawan Generasi Z [Preprint]. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. https://archive.umsida.ac.id/index.php/archive/preprint/view/10317
al Fazri, M. R., Prasetyo, Y., & Sofiah, D. (2025). Peran kepuasan kerja dalam perilaku quiet quitting pada karyawan Generasi Z. Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia, 3(4), 469–476. https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/download/133419/8377
Anggraini, M., Duhriah, Nusrida, H., & Putra, Y. (2026). Exploring job hugging and job hopping behavior among Generation Z workers in Indonesia through the lens of Islamic economic ethics. Jurnal Al-Intifaq, 6(1), 16–34. https://ejournal.uinmybatusangkar.ac.id/ojs/index.php/al-intifaq/article/download/16762/5786/50882
CNA Indonesia. (2025, 16 September). Fenomena job hugging: Bertahan di pekerjaan meski sudah lelah, karena cari kerja baru lebih lelah lagi. https://www.cna.id/lifestyle/job-hugging-tren-pekerja-takut-resign-pasar-kerja-lesu-38101
CNBC Indonesia. (2025, 19 September). Job hugging, fenomena baru dunia kerja saat ekonomi lesu. https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20250919112011-33-668438/job-hugging-fenomena-baru-dunia-kerja-saat-ekonomi-lesu
Good News from Indonesia. (n.d.). Job hugging, ketika bertahan di pekerjaan terasa lebih aman daripada resign. https://www.goodnewsfromindonesia.id/cerita-dari-kawan/tren/job-hugging-ketika-bertahan-di-pekerjaan-terasa-lebih-aman-daripada-resign
Good News from Indonesia. (2026). Dari job hugging ke job growing: Peran internal mobility dalam menjaga talenta Gen Z. https://www.goodnewsfromindonesia.id/cerita-dari-kawan/tren/dari-job-hugging-ke-job-growing-peran-internal-mobility-dalam-menjaga-talenta-gen-z
Hastami, F. M., & Putri, V. W. (2026). Pengaruh job burnout terhadap quiet quitting dengan optimisme sebagai variabel moderasi (Studi pada karyawan Generasi Z di Kota Semarang). UNNES Business Quarterly, 2(2). https://journal.unnes.ac.id/journals/ubq/article/download/44974/11085/185444
Putri, Z. A., Barkah, B., Ramadhan, R., Jaya, A., & Hassanudin, H. (2026). The role of employee engagement in mediating the effects of meaningful work, hindrance stressors, and work-life balance on quiet quitting among Generation Z employees in Indonesia. JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi), 12(4), 3426–3442. https://doi.org/10.35870/jemsi.v12i4.6700
Rahayu, I., Azzahra, F., Prameswari, D., Ramadhani, D. P., & Trisiana, A. E. A. (2025). Dilema Gen Z di dunia kerja: Burnout atau quiet quitting? Jurnal Ekonomi dan Bisnis, 26(2), 96–114. https://doi.org/10.30659/ekobis.26.2.96-114