Quiet Cracking Dalam Dunia Kerja: Ketika Bekerja Lebih Cepat dari Algoritma

Pergeseran paradigma dunia kerja ke arah otomatisasi telah melahirkan dinamika kompetisi baru antara manusia dan sistem digital. Di tengah percepatan teknologi digital, banyak Perusahaan memanfaatkan kecerdasan buatan, big data, dan sistem otomatisasi untuk membaca performa, memetakan produktivitas, hingga memprediksi perilaku karyawan. Dari hal tersebut muncul sebuah gejala baru yang dapat disebut sebagai quiet cracking, dimana sebuah kondisi ketika individu bekerja secara ekstrim, dan melampaui ritme algoritma, namun mengalami retakan batin yang tidak terlihat.

Quiet Cracking memiliki arti “retakan yang tenang”. Yang dimaksud arti tersebut adalah kondisi pecah secara batin yang dialami pekerja produktif akibat tuntutan untuk bekerja dengan kecepatan dan efisiensi yang setara dengan algoritma, yang mengakibatkan hilangnya makna kerja, motivasi, dan kerusakan kesehatan mental yang tersembunyi di balik kinerja performa yang sempurna. Jika Quiet quitting menggambarkan pekerja yang hanya bekerja sesuai deskripsi formal tanpa keterlibatan emosional, maka quiet cracking sebaliknya. Ia bukan pengunduran diri secara diam-diam, melainkan “pecah secara diam-diam.” Dimana  karyawan tampak sangat produktif seperti respons cepat, target tercapai, adaptif terhadap teknologi, bahkan sering kali mengungguli standar sistem digital. Namun di balik kinerja itu, terjadi tekanan psikologis yang akumulatif seperti kelelahan mental, kecemasan performatif, dan perasaan selalu diawasi.

Fenomena Quiet Cracking ini lahir dari ekosistem kerja berbasis algoritma. Sistem manajemen modern mengandalkan dashboard kinerja, notifikasi real-time, skor produktivitas, hingga evaluasi berbasis data. Algoritma tidak mengenal lelah, tidak mengenal jeda emosional, dan tidak memahami kompleksitas eksistensial manusia. Dalam algoritma hanya mengenal angka, waktu, dan hasil. Pekerja terdorong untuk “lebih cepat dari algoritma” membalas pesan sebelum sistem menandai keterlambatan, menyelesaikan tugas sebelum tenggat otomatis, dan mempertahankan rating kinerja agar tidak turun dalam sistem. Namun manusia bukan mesin. Ketika ritme kerja terus menyesuaikan pada kecepatan sistem, yang terancam bukan hanya kesehatan fisik, melainkan aspek psikologis dan makna bekerja .

Quiet cracking ini bukan hanya sekadar burnout biasa. Burnout biasanya muncul akibat beban kerja berlebihan dalam waktu lama. Quiet cracking lebih tidak terlihat, ia muncul dari tekanan performatif yang terinternalisasi. Pekerja merasa harus selalu hadir, selalu online, dan selalu respon cepat, bahkan ketika tidak ada tuntutan yang eksplisit. Algoritma menjadi semacam pengawas tak terlihat (panoptikon digital) yang menciptakan disiplin diri tanpa paksaan langsung. Quiet cracking  ini juga berkaitan dengan budaya hiper-produktivitas. Dimana pekerja berlomba-lomba mengoptimalkan diri dengan mengikuti berbagai pelatihan AI, mengotomatisasi tugas, mempercepat ritme kerja, tanpa menyadari bahwa tubuh dan mental memiliki batas.

Retakan dalam quiet cracking tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk insomnia, hilangnya rasa puas terhadap capaian, kesulitan memisahkan waktu kerja dan waktu pribadi, serta perasaan hampa setelah target tercapai. Individu tetap bekerja, tetap tersenyum dalam rapat virtual, tetap produktif, namun secara batin mengalami erosi makna. Dengan permasalahan tersebut menunjukkan pergeseran relasi antara manusia dan teknologi. Jika dahulu teknologi adalah alat yang membantu manusia, kini manusia sering kali menyesuaikan diri pada teknologi. Algoritma menentukan ritme, standar, dan parameter keberhasilan sehingga manusia berisiko kehilangan otonominya sebagai subjek kerja dan berubah menjadi pelaksana sistem.

Lalu bagaimana cara kita memahami quiet cracking?

Pertama, quiet cracking adalah tanda bahwa percepatan digital tidak selalu identik dengan kesejahteraan.

Kedua, quiet cracking menunjukkan bahwa produktivitas yang tinggi tidak selalu berarti kesehatan yang baik.

Ketiga, quiet cracking menjadi kritik implisit terhadap sistem kerja yang terlalu mengandalkan pengukuran kuantitatif.

Solusi terhadap fenomena quiet cracking ini tidak cukup hanya dengan cuti atau manajemen stres individual.       Perubahan paradigma dalam organisasi menjadi sangat penting dan tidak menjadikan algoritma sebagai satu-satunya standar nilai dalam kinerja pekerjaan. Transparansi evaluasi, fleksibilitas waktu, dan budaya empati menjadi elemen penting untuk mencegah retakan yang lebih dalam.

Bekerja lebih cepat dari algoritma bukanlah kemenangan. Bisa jadi ilusi keunggulan yang menyembunyikan kelelahan eksistensial. Tantangan dunia kerja masa depan bukan sekadar bagaimana manusia mampu mengikuti teknologi, melainkan bagaimana manusia tetap menjadi pusat makna dalam sistem yang semakin otomatis dengan batasan, emosi, dan kebutuhan yang sesuai. Jika retakan itu terus diabaikan, yang hancur bukan hanya kinerja personal, tetapi juga fondasi kemanusiaan dalam dunia kerja itu sendiri.

Penulis:
Isep Supriana

Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Jurusan Akidah Filsafat Islam



Referensi:

https://www.gaji.id/id/2025/09/22/quiet-cracking-apa-itu-ciri-ciri-dan-bagaimana-mencegahnya/

https://lifestyle.kompas.com/read/2025/08/14/121000720/setelah-quiet-quitting-kini-muncul-fenomena-baru-di-kantor--quiet-cracking

da Paz, Renata Zovka. "“Quiet Cracking”: Quando os Profissionais Permanecem, mas se Partem por Dentro “Quiet Cracking”: When Professionals Stay, but Break Inside."