Polyworking: “Ambisi Finansial Gen Z atau Tiket Emas Menuju Burnout?”
Fenomena unggahan media sosial yang mencerminkan estetika gaya hidup serba ada merupakan salah satu ciri Gen Z dalam memamerkan pencapaian mereka. Namun, di balik estetika gaya hidup mereka, terdapat sebuah tekanan yang perlu dihadapi setiap harinya. Demi memamerkan pencapaian finansial di media sosial, mereka harus memegang dua hingga tiga pekerjaan sekaligus. Dalam dunia kerja, fenomena ini dikenal sebagai polyworking. Pertanyaannya apakah polyworking ini menjadi strategi menuju finansial sukses mereka, atau justru bentuk keputusasaan terhadap tekanan ekonomi saat ini?
Polyworking merupakan tren di mana seseorang menjalani lebih dari satu pekerjaan atau profesi utama secara bersamaan. Berbeda dengan pekerjaan sampingan (side hustle), polyworking membuat individu memiliki tanggung jawab ganda di beberapa peran industri maupun bidang berbeda. Tanggung jawab ganda yang cukup besar merupakan tantangan nyata bagi Gen Z untuk bertahan hidup. Beban kerja yang berlipat ganda, membuat batasan antara produktif dan menyiksa diri menjadi sangat tipis. Ketika batasan antara profesi-profesi mulai kabur, ambisi mengejar stabilitas finansial perlahan menjadi ancaman bagi kesehatan mental mereka di masa muda.
Perlu ditekankan, bagi Gen Z polyworking bukanlah sebuah upaya demi terlihat keren dan mapan di media sosial. Sebagian besar Gen Z menerapkan praktik polyworking sebagai upaya mereka dalam bertahan hidup untuk menghadapi tekanan ekonomi saat ini. Biaya hidup yang melonjak drastis, serta ketidakpastian ekonomi dalam negeri mendorong masyarakat untuk mencari sumber penghasilan tambahan demi bertahan. Memiliki beberapa pekerjaan utama menjadi solusi untuk meningkatkan keamanan finansial dan mengurangi ketergantungan pada satu pekerjaan yang sewaktu-waktu lenyap.
Beban realitas ekonomi bukanlah satu-satunya faktor pendorong untuk melakukan polyworking. Paparan budaya flexing yang masif mengakibatkan fenomena FOMO finansial. Maraknya tren media sosial yang memamerkan pencapaian finansial di usia muda, membuat individu ingin mencoba berbagai peran. Dengan begitu, banyak dari mereka yang memulai karier mereka secara ekstrem dengan mencoba berbagai pekerjaan untuk menggapai stabilitas finansial dalam waktu singkat. Keinginan Gen Z mencapai kebebasan finansial (financial freedom) menjadi salah satu faktor pendorong polyworking ini diterapkan oleh mereka.
Ambisi tinggi bukan sekedar sebuah dorongan positif untuk mengamankan masa depan. Perlahan, ambisi akan menjadi sebuah bumerang bagi ketenangan kehidupan. Ketika seluruh energi dan waktu muda habis diperas demi mengejar kebebasan finansial instan, Batasan fisik dan pikiran mulai jenuh. Polyworking tidak lagi menjadi strategi karier cerdas, melainkan berubah menjadi taruhan individu yang mengorbankan kesehatan mental mereka.
Jam kerja yang cukup panjang dengan waktu istirahat yang minim disertai berkurangnya waktu berinteraksi, membuat individu mencapai titik jenuh. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko burnout dan menurunkan kualitas kesehatan mental. Sibuk bekerja berlebihan, dapat mengakibatkan timbulnya penyakit dalam diri individu. Menurut penelitian dari University of Bergen, Norwegia, yang melibatkan 16.426 pekerja dan 8% dari mereka termasuk dalam kategori workaholic. Sepertiga di antaranya berisiko mengalami ADHD dan 26% dari mereka menunjukkan tanda-tanda OCD.
Data tersebut membuktikan bahwa otak manusia memiliki batas. Dalam realitanya, polyworking seringkali membuat individu terjebak dalam rasa cemas yang tidak berkesudahan. Ketakutan penurunan performa kerja, serta kecemasan akan ketimpangan jadwal pekerjaan dalam perusahaan yang berbeda menjadi pemicu meningkatnya kecemasan individu. Hal ini mengakibatkan munculnya kebiasaan baru pada individu. Sebagian dari mereka sering kali mengecek telepon genggam serta email secara terus menerus, yang pada akhirnya membuat mereka merasa bersalah ketika mereka memilih untuk berdiam diri sejenak.
Rasa bersalah ketika berdiam diri sejenak, akhirnya menciptakan siklus kehidupan yang aneh. Mereka dipaksa untuk sibuk setiap harinya demi mengejar value diri mereka. Namun perlu digaris bawahi, ketika mereka bekerja keras hingga stres demi mengumpulkan uang, dan uang tersebut digunakan untuk menyembuhkan stress mereka, apakah ini artinya, kerja keras yang dilakukan ditujukan untuk menikmati hidup atau justru mengorbankan hidup demi terus bekerja?
Untuk itu, agar meminimalisir faktor buruk polyworking, diperlukan langkah yang tepat dalam penerapannya. Agar polyworking dapat dimaksimalkan untuk mencapai kebermanfaatan, maka diperlukan manajemen waktu yang disiplin dan batasan yang jelas agar individu tetap produktif tanpa mengalami kelelahan berlebih. Langkah-langkah strategis dalam menerapkan polyworking:
- Pahami Aturan dan Transparansi: Periksa kembali kontrak kerja utama Anda. Pastikan tidak ada larangan bekerja ganda dan komunikasikan secara terbuka dengan pemberi kerja mengenai pekerjaan sampingan Anda jika diperlukan.
- Tentukan Prioritas: Buat skala prioritas kerja yang ketat. Gunakan metode seperti Time-Blocking atau Eisenhower Matrix untuk mengidentifikasi tugas mana yang mendesak dan berdampak paling besar.
- Pisahkan Waktu dan Energi: Kelola jadwal harian Anda secara spesifik dan hindari multitasking. Dedikasikan waktu tertentu hanya untuk pekerjaan utama, dan alokasikan blok waktu terpisah untuk pekerjaan sampingan atau proyek freelance Anda.
- Jaga Batasan (Boundaries): Tetapkan jam "selesai kerja" untuk masing-masing pekerjaan. Hal ini penting untuk menjaga work-life balance dan memastikan Anda memiliki waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga.
- Evaluasi Beban Kerja: Lakukan tinjauan rutin setiap minggu. Jika Anda mulai merasa stres atau kelelahan, bersikaplah realistis dan pertimbangkan untuk mengurangi beban pada peran yang lebih fleksibel.
Melalui langkah-langkah tersebut, polyworking tidak lagi menjadi sebuah jebakan menakutkan. Keberhasilan dalam mengatur waktu bekerja akan menjadi penentu apakah kita sedang membangun masa depan yang mapan, atau justru sedang berjalan perlahan menuju kehancuran fisik dan mental. Polyworking menjadi sebuah solusi nyata untuk mencapai stabilitas dan kebebasan finansial di tengah tekanan ekonomi saat ini. Penerapan polyworking tidak bisa dilakukan dengan sembaragan, diperlukan batasan yang jelas dalam penerapannya.
Batasan jelas, menjadi sebuah fondasi dalam menjaga kesehatan mental. Ambisi dalam meraih stabilitas finansial memang baik, namun jika cara meraihnya dengan cara ekstrem maka hal ini tidak dapat dibenarkan. Berhentilah merasa bersalah ketika tubuh meminta jeda untuk tidak melakukan apapun. Pada dasarnya, tubuh bukanlah sebuah mesin yang dapat digunakan secara paksa tanpa batas. Bijaklah dalam mengambil keputusan, agar impianmu terwujud di masa depan.
Referensi:
https://www.gaji.id/id/2025/10/29/polyworking-tren-baru-dunia-kerja-di-era-modern/
https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/dampak-terlalu-sibuk-bekerja/
Penulis
Aulia
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam
UIN SIber Syekh Nurjati Cirebon