Mengenal Digital Fatigue, Tantangan Baru Pekerja di Era Serbadigital

Pernah merasa lelah padahal seharian hanya duduk di depan laptop? Satu tugas belum selesai, pesan WhatsApp sudah masuk. Tak lama, undangan rapat daring muncul, disusul notifikasi dari aplikasi kerja yang datang bergantian. Ketika laptop akhirnya ditutup, pikiran kita masih tertinggal di pekerjaan yang belum rampung.

Situasi ini makin sering dialami para pekerja di era digital, dan kamu yang sebentar lagi masuk dunia kerja pun berpotensi merasakannya. Teknologi memang membuat komunikasi jadi lebih mudah dan pekerjaan bisa dikerjakan dari mana saja. Namun, saat hampir semua aktivitas bertumpu pada layar dan berbagai aplikasi, muncul rasa lelah yang kerap tidak kita sadari. Kondisi inilah yang disebut digital fatigue.

Berdasarkan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026, 58 persen responden Gen Z dan 54 persen responden milenial mengaku mengalami kelelahan digital. Pemicunya beragam, mulai dari notifikasi yang tak henti-henti, kebiasaan berpindah-pindah aplikasi, hingga banyaknya platform yang harus dipakai untuk bekerja. Survei ini melibatkan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara.

Apa Itu Digital Fatigue?

Secara sederhana, digital fatigue adalah kelelahan psikologis akibat paparan komunikasi digital yang intens dan terus-menerus. Di tempat kerja, hal ini bisa terjadi ketika seseorang harus terus memantau pesan, ikut rapat daring, berganti-ganti aplikasi, dan menanggapi berbagai permintaan lewat ponsel atau laptop. Menurut Deloitte, kondisi ini juga diperparah oleh banyaknya alat digital yang sering kali belum terintegrasi dengan sistem dan alur kerja lama.

Penyebabnya pun tidak sebatas lamanya kita menatap layar. Arus informasi yang deras, gangguan notifikasi, dan tuntutan untuk selalu sigap membalas ikut membuat pekerjaan terasa lebih berat. Tanda-tandanya antara lain rasa lelah yang menetap, sulit fokus, mudah jenuh secara emosional, dan muncul keinginan untuk menjauh dari interaksi digital. Ada pula yang merasa terdorong mengecek ponsel berkali-kali setelah jam kerja karena takut ketinggalan informasi penting.

Masalah ini makin terasa karena urusan kantor kini mudah terbawa sampai ke rumah. Koordinasi bisa berlanjut lewat WhatsApp, panggilan video, atau platform kolaborasi lainnya. Memang, cara kerja seperti ini lebih fleksibel. Tetapi di sisi lain, garis pemisah antara waktu kerja dan waktu pribadi perlahan memudar.

Bayangkan ada pesan masuk pada malam hari. Isinya tidak mendesak, tetapi kita merasa harus segera membalasnya. Jika ini terjadi terus-menerus, waktu istirahat pun tidak benar-benar terpakai untuk beristirahat karena pikiran masih tertuju pada pekerjaan. Tekanannya bertambah ketika membalas cepat dianggap sebagai tanda profesional. Akibatnya, banyak karyawan merasa wajib selalu siaga agar tidak dicap lambat, padahal tidak semua pesan perlu dijawab saat itu juga.

Karena itu, digital fatigue tidak bisa begitu saja dianggap sebagai kesalahan orang yang terlalu sering memegang ponsel. Pola komunikasi, beban kerja, dan harapan di lingkungan kerja turut menentukan seberapa besar tekanan yang dirasakan.

Dampaknya pun nyata. Ketika perhatian terus terpecah oleh notifikasi dan perpindahan aplikasi, kita jadi sulit bertahan pada satu pekerjaan. Waktu yang semestinya dipakai untuk menyelesaikan tugas habis untuk membaca pesan, mengecek pembaruan, atau menanggapi permintaan lain. Tugas yang sebenarnya singkat jadi terasa panjang. Dalam kondisi tertentu, semangat kerja bisa menurun, rasa bosan lebih cepat datang, dan waktu di luar pekerjaan pun sulit dinikmati.

Lima Kebiasaan untuk Mengurangi Digital Fatigue

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Mengurangi kelelahan digital bukan berarti harus menjauhi teknologi. Perangkat dan aplikasi tetap kita perlukan, tetapi cara memakainya perlu diatur agar tidak terus menyita perhatian. Berikut lima kebiasaan yang bisa dicoba.

1. Kelola notifikasi dengan bijak. Tidak setiap pesan perlu dibuka seketika. Biarkan hanya kabar yang benar-benar penting yang muncul langsung, sementara sisanya bisa dibaca di waktu yang kamu tentukan. Dengan begitu, fokusmu tidak mudah terganggu.

2. Sempatkan rehat dari layar. Usai rapat daring atau mengerjakan tugas yang menguras konsentrasi, beri dirimu waktu untuk istirahat sebentar. Pandangi pemandangan di luar jendela, berdiri dan regangkan badan, lalu kembali bekerja dengan kepala yang lebih ringan.

3. Pasang batas yang jelas untuk jam kerja. Tentukan kapan hari kerja dimulai dan kapan berakhir. Kalau tidak ada hal yang mendesak, biarkan pesan kerja menunggu sampai besok, sehingga malammu tetap menjadi waktu pribadi.

4. Kerjakan satu hal dalam satu waktu. Daripada sebentar-sebentar berpindah aplikasi, kumpulkan aktivitas sejenis dalam satu sesi, misalnya membalas pesan, memeriksa email, dan mengurus urusan administrasi sekaligus. Pola ini membuat pikiran lebih tenang dan pekerjaan terasa tidak sehebat itu melelahkan.

5. Ciptakan budaya komunikasi yang sehat bersama tim. Upaya ini tidak bisa dijalankan sendirian, melainkan perlu dukungan perusahaan dan atasan. Seberapa cepat pesan harus dibalas, bagaimana grup kerja digunakan, dan apakah boleh menghubungi di luar jam kerja sebaiknya disepakati secara terbuka. Perusahaan juga bisa meninjau ulang, apakah semua aplikasi dan rapat yang ada memang dibutuhkan.

Pada akhirnya, produktif tidak sama dengan cepat membalas pesan atau lama menatap layar. Bekerja dengan baik membutuhkan konsentrasi, waktu istirahat, dan batas yang tegas antara urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Bagi mahasiswa dan fresh graduate yang akan terjun ke dunia kerja, memahami hal ini sejak dini sangat berguna. Beradaptasi dengan teknologi memang penting, tetapi tahu kapan harus fokus, kapan harus rehat, dan kapan perlu membatasi komunikasi juga bagian dari kebiasaan kerja yang sehat. Kamu bisa mulai melatihnya dari sekarang, misalnya saat mengerjakan tugas kelompok yang grup WhatsApp-nya selalu ramai, atau ketika menjalani magang.

Jadi, tantangannya bukan menjauh dari teknologi. Yang terpenting, teknologi tetap menjadi alat yang membantu pekerjaan, bukan sumber gangguan yang membuat kita merasa harus siaga setiap saat.

Penulis:
Meldy Fauziah
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Referensi