Lelah yang Tidak Terlihat Mahasiswa Semester Akhir: Fase perubahan masa perkuliahan ke dunia pekerjaan
Ada satu fase dalam hidup mahasiswa yang sering digambarkan penuh kebahagiaan, tetapi sebenarnya diam-diam menguras energi paling banyak yaitu fase menjadi mahasiswa tingkat akhir. Di luar kamu terlihat baik-baik saja. Masih sempat nongkrong, masih upload story, masih bisa ketawa bareng teman-teman. Tetapi begitu layar laptop menyala dan file skripsi terbuka, ada beban yang tiba-tiba terasa jauh lebih berat dari sekadar tugas kuliah biasa.
Itu bukan kemalasan. Itu burnout.
Dilansir dari Alodokter.com , Burnout adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi stres berat yang dipicu oleh tugas atau pekerjaan. Burnout ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan perlu diatasi dengan cara yang tepat karena dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental. Siapa saja bisa mengalami burnout ini. Namun, kondisi ini lebih banyak terjadi pada orang yang sering memaksa diri untuk terus bekerja, kurangnya jam istirahat, kurang mendapatkan apresiasi atas pekerjaan yang telah dilakukan, hingga memiliki beban kerja yang berat, atau memiliki pekerjaan yang monoton.
Ketika Skripsi Bukan Lagi Soal Kepintaran, Tapi Soal Ketahanan
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Teraputik pada 2025 mencatat bahwa sekitar 81% mahasiswa tingkat akhir merasakan kegelisahan selama mengerjakan tugas skripsi. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan menggambarkan sesuatu yang mungkin sudah kamu rasakan sendiri, seperti rasa berat setiap kali membuka folder penelitian, dorongan untuk menunda meski tahu deadline semakin dekat, atau perasaan capek padahal secara objektif pekerjaan yang dikerjakan tidak seberapa. Itu yang dinamakan burnout Akademik.
Burnout akademik pada fase ini biasanya muncul lewat kombinasi gejala, mulai dari prokrastinasi (kebiasaan menunda-nunda pelaksanaan suatu pekerjaan atau tugas penting dengan sengaja, lalu menggantinya dengan aktivitas lain yang kurang penting atau lebih menyenangkan), kesulitan mengatur waktu, hingga overthinking yang datang secara tiba-tiba dan tanpa diundang. Studi lain dari UPGRIS mengidentifikasi enam faktor yang membuat mahasiswa akhir rentan mengalami burnout yaitu dimulai dari cara mereka memberi penghargaan pada diri sendiri, kemampuan mengelola stres, keyakinan terhadap kemampuan diri, minimnya hubungan yang suportif dengan orang tua, kurangnya dukungan sosial, serta tekanan tinggi yang berlangsung terus-menerus tanpa jeda. Dalam keadaan seperti itu, dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat punya peran besar dalam membantu seseorang bertahan melewati fase ini. Seperti menjadi tempat bersandar untuk meluapkan kekesalan tanpa mendikte atau menyalahkan. Menunjukkan kepedulian melalui kehadiran fisik, atau mengucapkan kata-kata penenang, hingga Memberikan masukan terkait manajemen waktu.
Lulus Bukan Akhir dari Kelelahan, Tapi Awal dari Babak Baru
Yang jarang dibicarakan adalah bagian setelah wisuda. Banyak yang membayangkan setelah lulus, semua beban akan hilang begitu saja. Kenyataannya, justru di titik inilah tantangan baru dimulai. Fenomena ini dikenal secara akademis sebagai quarter-life crisis, yaitu masa transisi dari kehidupan kampus menuju “dunia nyata”. Penelitian dari Universitas Malikussaleh menjelaskan bahwa periode ini adalah periode yang tidak stabil, bisa memicu kecemasan, stres, panik, serta perasaan ragu-ragu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jadi, kalau kamu baru lulus dan merasa bingung harus melangkah ke mana, sementara teman-teman sepertinya sudah tahu arah hidup masing-masing, itu bukan berarti kamu tertinggal. Itu artinya kamu sedang melewati fase yang memang secara alami penuh gejolak, dan hampir semua orang melewatinya dengan cara yang tidak semulus kelihatannya.
Kenapa Transisi Ini Terasa Begitu Berat?
Kalau ditelusuri lebih dalam, burnout saat skripsi dan kecemasan saat memasuki dunia kerja memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama muncul dari tekanan yang datang bertubi-tubi tanpa ruang untuk memproses. Saat masih di kampus, tekanannya berbentuk tenggat waktu, revisi dosen pembimbing, dan ekspektasi untuk lulus tepat waktu. Begitu masuk dunia kerja, bentuknya berubah menjadi kekhawatiran soal kompetensi yang dirasa belum cukup, ketidakpastian apakah keterampilan yang dimiliki relevan dengan kebutuhan industri, dan tekanan finansial untuk segera mandiri. Bedanya hanya nama masalahnya, tetapi rasa lelah di baliknya sering kali sama.
Yang membuat semuanya lebih berat lagi adalah media sosial. Kita jadi terbiasa melihat highlight orang lain, teman yang sudah keterima kerja, teman yang sudah punya gaji stabil, teman yang sepertinya “sudah jadi orang”. Padahal yang kita lihat itu hanya cuplikan, bukan keseluruhan cerita yang dialami.
Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?
Tidak ada solusi instan untuk burnout atau quarter-life crisis, tapi ada beberapa hal yang menurut berbagai penelitian benar-benar membantu.
Pertama adalah Bicara, jangan dipendam sendiri. Dukungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun pasangan, berkorelasi dengan tingkat burnout dan kecemasan yang lebih rendah. Cerita ke orang yang kamu percaya bukan tanda lemah, justru itu salah satu cara paling efektif untuk meringankan beban. Kedua, Pecah masalah besar menjadi langkah kecil. Alih-alih hanya memikirkan skripsi harus selesai atau aku harus dapat kerja yang sempurna, coba fokus pada satu langkah konkret di depan mata. Mencari informasi, mengikuti pelatihan, atau sekadar merapikan CV adalah bentuk strategi yang terbukti membantu meredakan kecemasan terkait karier. Ketiga, Beri ruang untuk istirahat tanpa rasa bersalah. Kelelahan mental butuh pemulihan, bukan cuma dipaksa lanjut. Menjaga waktu tidur, menyisihkan waktu untuk hal yang disukai, dan tidak memaksakan diri bekerja larut malam terus-menerus adalah bagian dari menjaga kesehatan, bukan bentuk kemalasan.
Jadi, Burnout di masa skripsi dan kecemasan menghadapi dunia kerja bukan tanda kegagalan. Keduanya adalah respons yang wajar dari sebuah transisi besar dalam hidup, dari dunia yang selama ini terasa familiar menuju dunia yang penuh hal baru dan belum terpetakan. Yang perlu diingat, kamu tidak harus melewatinya sendirian, dan tidak apa-apa kalau prosesnya tidak secepat atau semulus yang kamu bayangkan.
Oleh: Isep Supriana