Kualitas Lapangan Pekerjaan di Indonesia: Tantangan Nyata yang Dihadapi Generasi Muda Saat Ini

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen kerap dipersepsikan sebagai indikator keberhasilan pembangunan nasional. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, kualitas lapangan pekerjaan yang tercipta justru menunjukkan persoalan serius. Laporan terbaru Bank Dunia dalam Indonesia Economic Prospects: Fondasi Digital untuk Pertumbuhan (Desember 2025) mengungkapkan bahwa peningkatan penyerapan tenaga kerja selama setahun terakhir lebih banyak disumbang oleh sektor berupah rendah dan sektor informal. Kondisi ini secara langsung menempatkan generasi muda sebagai kelompok yang paling rentan terjebak dalam pekerjaan tidak layak.

Data menunjukkan adanya penurunan upah riil rata-rata sebesar 1,1 persen dalam periode 2018–2024. Ironisnya, penurunan paling tajam justru dialami oleh pekerja dengan keterampilan tinggi, yakni mencapai 2,3 persen. Sementara itu, pekerja dengan keterampilan menengah mengalami penurunan 1,1 persen, dan pekerja berketerampilan rendah justru mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3 persen.

Fenomena ini mengindikasikan terjadinya mismatch antara pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan pasar tenaga kerja. Lulusan perguruan tinggi, termasuk generasi muda terdidik, tidak sepenuhnya terserap dalam pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka. Akibatnya, banyak yang terpaksa menerima pekerjaan di luar bidang keahlian, dengan upah rendah dan minim jaminan sosial.

Jika ditinjau dari sektor lapangan kerja, sektor pertanian, utilitas, serta perdagangan dan transportasi menunjukkan kecenderungan peningkatan kebutuhan tenaga kerja berketerampilan rendah. Sebaliknya, sektor-sektor yang sebelumnya diharapkan menjadi motor penyerapan tenaga kerja terampil—seperti manufaktur dan jasa bisnis—mengalami stagnasi bahkan penurunan.

Di sektor informasi dan komunikasi yang identik dengan era digital sekalipun, peningkatan tenaga kerja terampil tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi digital belum sepenuhnya menciptakan quality jobs, melainkan lebih banyak melahirkan pekerjaan fleksibel, kontraktual, dan berbasis platform yang rawan ketidakpastian.

Realitas ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari generasi muda Indonesia. Banyak lulusan SMA hingga perguruan tinggi yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring, staf kontrak, pekerja lepas digital, atau pekerjaan informal lain yang tidak menawarkan jenjang karier jangka panjang. Bekerja “seadanya” bukan lagi pilihan, melainkan strategi bertahan hidup di tengah terbatasnya lapangan kerja layak.

Di perkotaan, pemandangan antrean panjang pekerja komuter di transportasi publik mencerminkan tingginya persaingan kerja dan sentralisasi kesempatan ekonomi. Sementara di daerah, minimnya industri padat karya berkualitas memaksa anak muda untuk merantau atau menerima pekerjaan informal dengan produktivitas rendah.

Kualitas lapangan kerja yang buruk berdampak langsung pada kesejahteraan. Upah yang stagnan atau menurun, status kerja tidak tetap, serta minimnya perlindungan sosial meningkatkan kerentanan ekonomi generasi muda. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap sistem ekonomi dan memperlebar kesenjangan sosial.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak dibarengi penciptaan lapangan kerja berkualitas berisiko melahirkan lost generation tenaga kerja muda. Oleh karena itu, kebijakan ketenagakerjaan ke depan tidak cukup hanya berfokus pada kuantitas penyerapan tenaga kerja, tetapi harus memastikan kualitas, keberlanjutan, dan kesesuaian dengan keterampilan generasi muda. Tanpa intervensi serius, kerja seadanya akan terus menjadi wajah dominan dunia kerja Indonesia hari ini.


Penulis: Desty Heppyani Mustopa

Mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam