Ketika AI Bisa Membuat Konten, Apa yang Tersisa untuk Mahasiswa?
Beberapa tahun lalu, membuat sebuah konten membutuhkan proses yang cukup panjang. Mahasiswa yang mengelola media kampus, misalnya, harus mencari ide, menyusun tulisan, membuat desain, mengambil gambar atau video, lalu mengeditnya sebelum konten siap dipublikasikan. Kemampuan seperti ini kemudian menjadi salah satu pengalaman yang bisa dibawa ketika mengikuti organisasi, mencari tempat magang, maupun mempersiapkan diri masuk ke dunia kerja.
Sekarang, sebagian proses tersebut sudah bisa dibantu oleh Artificial Intelligence (AI). Dalam waktu singkat, AI dapat memberikan ide, membantu menyusun tulisan, membuat ilustrasi, hingga menghasilkan naskah video. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama bisa dikerjakan dengan lebih cepat.
Bagi mahasiswa, tentu saja hal ini cukup membantu. Pekerjaan menjadi lebih praktis dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal juga semakin terbuka. Mahasiswa yang belum terlalu mahir membuat desain atau menyusun naskah, misalnya, bisa menggunakan AI untuk membuat gambaran awal sebelum dikembangkan sendiri.
Di sisi lain, perkembangan ini juga membuat cara kerja di dunia profesional ikut berubah. Jika beberapa pekerjaan teknis sekarang bisa dilakukan dengan bantuan teknologi, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk menghasilkan sebuah karya. Mereka juga perlu memahami apa yang sedang dikerjakan, untuk siapa pekerjaan itu dibuat, dan bagaimana menentukan pilihan yang tepat.
Dari Mengerjakan Menjadi Mengarahkan
Perubahan karena teknologi sebenarnya bukan hal baru. Dunia kerja sudah berkali-kali mengalami perubahan ketika muncul teknologi baru. Namun, AI memiliki kemampuan yang cukup luas karena dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya banyak dilakukan secara langsung oleh manusia, mulai dari menulis, membuat visual, mengolah informasi, sampai mencari ide.
Dalam pekerjaan yang berkaitan dengan komunikasi dan konten, misalnya, AI memang bisa membantu membuat caption atau menghasilkan gambar dalam waktu singkat. Namun, hasil tersebut belum tentu langsung cocok dengan kebutuhan sebuah organisasi atau karakter audiens yang dituju.
Setiap lembaga memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Ada informasi yang perlu disampaikan secara formal, sementara informasi lainnya justru lebih cocok disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan audiens. Begitu juga dengan visual. Desain yang terlihat bagus belum tentu sesuai dengan identitas sebuah lembaga atau pesan yang ingin disampaikan.
Karena itu, mahasiswa tetap perlu memahami pekerjaan yang mereka lakukan, bukan hanya mengetahui cara menggunakan berbagai tools. Dalam membuat konten, misalnya, AI bisa membantu memberikan beberapa pilihan ide. Setelah itu, mahasiswa perlu menentukan ide mana yang paling sesuai, mengecek informasi yang digunakan, menyesuaikan bahasa dengan audiens, dan melihat kembali apakah pesan yang dibuat sudah tepat.
Mahasiswa tetap perlu terbiasa mengarahkan dan mengevaluasi hasil yang diberikan AI, bukan sekadar menerima hasilnya begitu saja.
Pengalaman di Lapangan Tetap Penting
Perubahan teknologi tidak berarti mahasiswa cukup belajar menggunakan AI lalu merasa siap menghadapi dunia kerja. Keterampilan teknologi memang penting, tetapi ada kemampuan lain yang terbentuk melalui pengalaman langsung.
Hal ini sejalan dengan pembahasan Talenta Hub Indonesia mengenai tantangan mahasiswa di dunia kerja modern. Perkembangan teknologi membuat mahasiswa perlu mempersiapkan berbagai keterampilan selain kemampuan akademik, termasuk komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi.
Kemampuan tersebut banyak berkembang ketika mahasiswa terlibat dalam situasi nyata. Organisasi, kepanitiaan, magang, PPL, proyek bersama, maupun pekerjaan freelance memberikan pengalaman yang berbeda dari sekadar mempelajari teori.
Saat mengelola sebuah kegiatan, misalnya, rencana yang sudah dibuat bisa berubah karena kondisi di lapangan. Dalam sebuah tim, perbedaan pendapat juga mungkin muncul dan harus diselesaikan bersama. Ketika mengerjakan proyek untuk pihak lain, mahasiswa perlu memahami kebutuhan orang tersebut, menerima revisi, mengatur waktu, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
Hal-hal seperti itu tidak bisa didapat hanya dengan mempelajari teori atau menggunakan AI. Mahasiswa tetap perlu mengalaminya sendiri agar terbiasa menghadapi situasi yang mungkin nantinya juga ditemui di dunia kerja.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika melihat perkembangan AI di dunia kerja. International Labour Organization (ILO) memperkirakan sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertentu terhadap Generative AI. Namun, paparan tersebut tidak selalu berarti pekerjaan akan hilang. ILO melihat bahwa dalam banyak kasus, AI lebih mungkin mengubah tugas dan cara pekerjaan dilakukan daripada sepenuhnya menggantikan suatu pekerjaan.
Bagi mahasiswa, perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting. Pekerjaan yang dilakukan saat ini mungkin tidak sepenuhnya sama dengan pekerjaan yang akan dijalani beberapa tahun mendatang.
AI sebagai Alat, Bukan Jalan Pintas
Kehadiran AI sebaiknya tidak membuat mahasiswa berhenti mengembangkan kemampuan dasar. Justru teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses belajar dan bekerja.
AI bisa digunakan untuk mencari alternatif ide, membantu membuat kerangka tulisan, memberikan masukan terhadap sebuah konsep, atau membantu menyelesaikan pekerjaan teknis tertentu. Setelah itu, mahasiswa tetap perlu memeriksa hasilnya dan mengembangkannya berdasarkan pengetahuan serta kebutuhan yang sebenarnya.
Yang juga perlu dipelajari adalah bagaimana menggunakan AI dengan tepat. Mahasiswa yang hanya mengambil hasil AI lalu menggunakannya tanpa pemeriksaan tentu berbeda dengan mahasiswa yang menjadikan AI sebagai alat bantu untuk mengembangkan pikirannya sendiri.
Terlebih lagi, AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar atau sesuai konteks. Hasil yang terlihat meyakinkan tetap perlu diperiksa, terutama ketika berkaitan dengan fakta, data, maupun informasi yang akan disampaikan kepada publik. Karena itu, kemampuan berpikir kritis tetap dibutuhkan untuk mempertanyakan informasi, membandingkan sumber, memahami konteks, dan menentukan apakah sebuah hasil layak digunakan.
Mempersiapkan Diri di Tengah Perubahan
AI kemungkinan akan terus berkembang dan membuat semakin banyak pekerjaan menjadi lebih cepat. Karena itu, mahasiswa tidak perlu menghindari teknologi tersebut. Mengenal dan memanfaatkannya secara bijak justru dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi dunia kerja.
Namun, kemampuan menggunakan AI sebaiknya tidak berdiri sendiri. Kemampuan teknis perlu berjalan bersama kreativitas, komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, dan pengalaman di lapangan.
Di dunia kerja, kemampuan menghasilkan sesuatu tentu penting. Namun, mahasiswa juga perlu memahami kebutuhan, menentukan pilihan, bekerja bersama orang lain, dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya.
AI mungkin bisa membantu membuat sebuah konten dalam hitungan detik. Tetapi menentukan konten seperti apa yang perlu dibuat, untuk siapa, dengan tujuan apa, dan bagaimana dampaknya bagi orang lain tetap membutuhkan pemahaman terhadap manusia dan konteks.
Karena itu, menghadapi perkembangan AI bukan berarti mahasiswa harus bersaing dengan teknologi dalam hal kecepatan. Yang lebih penting adalah belajar menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, menilai, dan mengambil keputusan sendiri.
Penulis:
Meldy Fauziah
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon
Referensi
-
Talenta Hub Indonesia. (2026). Mahasiswa dan Tantangan Dunia Kerja di Era Modern.
https://new.talentahub.id/publikasi/mahasiswa-dan-tantangan-dunia-kerja-di-era-modern
-
International Labour Organization (ILO). (2025). Generative AI and Jobs: A Refined Global Index of Occupational Exposure.
https://www.ilo.org/publications/generative-ai-and-jobs-refined-global-index-occupational-exposure