Aktif Bukan Berarti Berdampak: Refleksi Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan SDGs dan Membangun Karier Berkelanjutan

Di era yang serba kompetitif seperti sekarang, mahasiswa tidak lagi hanya dituntut untuk memiliki nilai akademik yang baik. Berbagai sertifikat, pengalaman organisasi, kepanitiaan, hingga kegiatan sukarela sering kali menjadi pelengkap yang dianggap penting untuk memperkuat Curriculum Vitae (CV). Akibatnya, banyak mahasiswa berlomba-lomba menjadi pribadi yang aktif. Namun, di tengah semangat tersebut, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan: apakah aktif selalu berarti berdampak?

Fenomena ini cukup mudah ditemukan di lingkungan kampus. Tidak sedikit mahasiswa yang mengikuti berbagai kegiatan secara bersamaan, tetapi kesulitan menjelaskan kontribusi nyata yang telah mereka berikan. Aktivitas terkadang berubah menjadi sekadar rutinitas administratif untuk memenuhi portofolio, bukan sarana untuk menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Padahal, dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan individu yang sibuk, melainkan mereka yang mampu menciptakan nilai dan dampak.

Dalam konteks inilah Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi relevan. SDGs merupakan agenda pembangunan global yang terdiri atas 17 tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Agenda ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau organisasi internasional, tetapi juga membutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa. Salah satu tujuan SDGs adalah memastikan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan keterampilan yang relevan untuk pekerjaan, kewirausahaan, serta pembangunan berkelanjutan.

Sayangnya, sebagian mahasiswa masih memandang karier semata-mata sebagai upaya memperoleh pekerjaan setelah lulus. Padahal, karier sejatinya merupakan perjalanan panjang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Perspektif ini sejalan dengan SDGs poin 8 yang menekankan pentingnya pekerjaan yang layak, produktif, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Perubahan kebutuhan dunia kerja juga menunjukkan bahwa perusahaan dan organisasi kini semakin menghargai individu yang memiliki kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, berkolaborasi, dan beradaptasi terhadap perubahan. Keterampilan tersebut tidak lahir dari banyaknya sertifikat yang dikumpulkan, melainkan dari pengalaman nyata dalam menghadapi persoalan sosial dan mencari jalan keluarnya. Oleh karena itu, aktivitas mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada tingkat partisipasi, tetapi berkembang menjadi kontribusi yang menghasilkan dampak.

Misalnya, seorang mahasiswa yang terlibat dalam program literasi di daerah terpencil tidak hanya memperoleh pengalaman organisasi. Ia juga belajar memahami persoalan pendidikan, berkomunikasi dengan berbagai pihak, mengelola program, dan mencari solusi atas tantangan yang dihadapi masyarakat. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan modal penting yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern. Di sisi lain, kontribusi tersebut juga mendukung tujuan SDGs di bidang pendidikan berkualitas.

Contoh lain dapat ditemukan pada mahasiswa yang mendampingi pelaku usaha mikro, mengembangkan program pengelolaan sampah, atau melakukan kampanye kesadaran lingkungan. Aktivitas semacam ini tidak hanya memberikan pengalaman praktis, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinan, kreativitas, dan tanggung jawab sosial. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut berkontribusi terhadap berbagai tujuan SDGs, khususnya yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan.

Lebih jauh lagi, orientasi pada dampak akan membantu mahasiswa membangun identitas profesional yang lebih kuat. Ketika mengikuti proses rekrutmen, pertanyaan yang sering muncul bukan lagi "berapa banyak kegiatan yang pernah diikuti?", melainkan "apa hasil yang berhasil dicapai dari kegiatan tersebut?". Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan. Dunia kerja lebih menghargai seseorang yang mampu menunjukkan perubahan nyata dibandingkan individu yang hanya memiliki daftar aktivitas panjang tanpa pencapaian yang jelas.

Karena itu, mahasiswa perlu mulai mengubah cara pandang terhadap aktivitas yang mereka jalani. Organisasi, kepanitiaan, lomba, maupun program pengabdian bukanlah tujuan akhir. Semua itu merupakan sarana untuk belajar memahami masalah, bekerja sama dengan orang lain, dan menciptakan perubahan positif. Dengan kata lain, yang terpenting bukanlah seberapa sibuk seseorang terlihat, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat ia hadirkan.

Pada akhirnya, SDGs dapat dipandang sebagai kompas yang membantu mahasiswa membangun karier yang lebih bermakna. Karier tidak lagi sekadar tentang mendapatkan pekerjaan atau penghasilan, tetapi juga tentang bagaimana kemampuan yang dimiliki dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Ketika mahasiswa mampu menghubungkan aktivitasnya dengan dampak sosial yang nyata, mereka tidak hanya sedang mempersiapkan diri menjadi pekerja yang kompeten, tetapi juga menjadi agen perubahan yang berkontribusi bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.


Penulis
Didin Kamaludin

Aqidah Filsafat Islam
UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon